Buku ini mengisahkan tentang peristiwa-peristiwa yang dialami penulis sepanjang hidupnya yang penuh warna. Diawali dengan perkenalan tentang “Aku” yang mengulas singkat tentang siapa penulis itu. Cerita berikutnya yaitu “Bekas Luka di Tangan Kiri”, “Pelabuhan yang Menakutkan”, dan “Khayalan yang Menjadi Kenyataan” mengisahkan pengalaman serta kebiasaan di masa kecil yang dihiasi dengan keisengan, khayalan, ketakutan, maupun keceriaan. Masa-masa pertama kali belajar mengendarai motor dan mobil saat di SMP, di SMA, dan di perguruan tinggi dikisahkan dalam “Belajar Mengemudi (1)” dan “Belajar Mengemudi (2)”. Kebimbangan dan rasa rendah diri saat menyadari bahwa wajah tidak semulus dan secantik masa kecil dikisahkan dalam “Inner Beauty is More Important”. Berada dalam suasana mencekam ketika mengalami kecelakaan bis malam dikisahkan dalam “Antara Bandung dan Yogyakarta”.
Selanjutnya, pengalaman pada masa kuliah yang unik yaitu ketika membantu menarik mobil yang mogok dikisahkan dalam “Mbak, Mbak, Gandengannya Lepas”. Cerita-cerita selanjutnya terjadi pada masa penulis sudah bekerja sebagai dosen dan sudah menikah. Diawali dengan kekeliruan adik ipar mengartikan siapa yang dicari oleh seorang mahasiswa, ibu dosen atau ibu mertua sang dosen yang dikisahkan dalam “Ke Pasar atau ke Kampus?” Lalu cerita “Guru Besar yang Bijak” dan “Kejutan-Kejutan Kecil di Negeri Orang” mengisahkan perasaan dan pengalaman penulis ketika menjalani studi lanjut di Jerman.
Cerita-cerita selanjutnya terjadi setelah penulis menyelesaikan studinya di Jerman. “Maghrib yang Tak Terlupakan” mengisahkan tentang putra kedua penulis yang berjalan keluar rumah tanpa pengawasan ketika masih berusia satu setengah tahun. Kemudian dalam cerita “Tak Ada yang Dapat Mencegah TakdirNya” dikisahkan tentang asisten rumah tangga penulis yang meninggal karena kecelakaan. Kebimbangan penulis saat harus membagi roti dengan adil kepada putra-putrinya dikisahkan pada cerita “Ketika Aku Harus Adil”. Mengalami musibah yang disadari sebagai peringatan dari Allah atas ghibah yang dilakukan dituangkan penulis dalam cerita “Aku dan Selokan”.
“Sekali Merengkuh Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui” mengisahkan tentang pengalaman penulis mengikuti beberapa kegiatan dalam waktu yang hampir bersamaan yang tentunya karena izin Allah SWT. Dalam cerita “Bersama Kakak”, penulis mendapat kesempatan yang tidak biasa yaitu mengikuti kegiatan seminar hasil penelitian bersama kakak. Dalam cerita “Ponselku Sayang Ponselku Malang”, dikisahkan tentang ketergantungan kita terhadap ponsel. Selanjutnya adalah “Inspiring Women”, merupakan cerita dengan halaman terbanyak dalam buku ini yang mengisahkan tentang perempuan-perempuan di sekitar penulis yang selama ini menginspirasi penulis dalam menjalani kehidupan yang penuh warna. Cerita “Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya” mengisahkan tentang beberapa sifat penulis yang diikuti oleh putra-putrinya.
Cerita berjudul “Antara Kesombongan dan Kebanggaan” mengisahkan tentang kebimbangan ketika harus melakukan atau mengatakan sesuatu yang bernilai positif. Dalam cerita “Anak Professor Harus Bisa Apa dong?” dikisahkan tentang bagaimana mensyukuri kelebihan anak-anak kita sekecil apapun itu. Penulis mengisahkan pertemuan kembali dengan teman-teman SMP dalam cerita “Reuni SMP; The Circle of Life”. Selanjutnya, suatu pertemuan yang unik dengan sahabat pena pada masa kecil dikisahkan dalam cerita “A Unique Friendship”. Cerita “Rencana Milik Manusia, Keputusan Milik Allah” mengisahkan tentang sehebat apapun rencana kita, pada akhirnya kepada Allah SWT lah kita memohon ridhaNya karena hanya Allah yang mengetahui apa yang paling tepat untuk kita. Pada akhir cerita penulis merangkai seluruh jalan pikiran dan perasaannya kemudian diungkapkan dalam pertanyaan “What am I Looking For” yang mengisahkan tentang tujuan hidup yang sebenarnya.
Penulis: Meta Mahendradatta
Dimensi: 14 x 21 cm
Ketebalan: 185 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-73864-9-5
