Imajinasi-Imajinasi Sosiologis

Agaknya cenderung kontradiktif ketika imajinasi sebagai wakil kreativitas bersanding dengan sosiologi sebagai suatu disiplin ilmu. Yang pertama menandai adanya unsur subjektifitas individu, sementara yang kedua mengacu kepada prinsip objektivitas ilmu. Namun, di situlah keunikannya. Roda sejarah yang sampai hari ini terus bergerak tiada lain tiada bukan lantaran pertautan antara unsur subjektifitas dan objektivitas. Antara imajinasi yang lentur dengan tatanan hukum masyarakat yang kaku. Dengan kata lain, benturan keduanya menciptakan suatu aliran dinamis yang berkembang sebagai sejarah kehidupan manusia.

Menelusuri ungkapan-ungkapan karangan Sawedi dalam buku ini, setidaknya ikut membenarkan bahwasannya sejarah yang “mengalir” melalui jaringan, pertautan, kaitan dan arus harapan dan tindakan manusia, tidak semata-mata dapat berlalu begitu saja. Melalui tulisan-tulisannya momen-momen bersejarah itu ditangkap dan diabadikan.

Menariknya, pertauatan ulasan-ulasan Sawedi adalah hasil dari sejarah yang sebenarnya bertaut dengan dinamika kedua unsur tadi. Dengan kata lain tulisan-tulisan yang ada di tangan pembaca ini adalah hasil perjumpaan antara unsur subjektifitas dan objektifitas penulis yang mengacu kepada kenyataan-kenyataan yang ditemukannya.

Walaupun diurai dengan cara yang ringkas, tulisan-tulisan ini sulit untuk tidak mengatakan hasil dan sekaligus proses menyejarah yang akan menjadi sejarah. Dia menjadi catatan-catatan tilas yang bisa saja membangkitkan memori orang yang membacanya. Di momen seperti itu, walaupun bersifat petilasan justru bisa mendatangkan suatu momen reflektif dan kritis.

Dua hal inilah yang patut diberikan harga, terutama ketika banyak momen kehidupan masyarakat berlalu begitu saja tanpa ada semacam alarm untuk menandainya. Buku ini karena bahasanya yang jernih dan dikemas melalui pendekatan akademik populer, dapat dengan mudah dibaca dan menjadi medium praktis agar dua hal tadi dapat terus terjaga.

Ditulis oleh seorang akademisi membuat buku Ini tidak membuatnya menjadi njelimet. Nyaris tidak ada bebauan yang berbau teoritis dalam buku ini. Justru sebagai pengajar di bidang ilmu sosial, membuat tulisan ini ibarat catatan-catatan lepas yang bisa menjadi pengantar untuk memulai suatu percakapan yang lebih serius. Dengan begitu buku ini bisa diposisikan sebagai “pikiran-pikiran awal” ketika ingin memahami perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Tentu itu sejauh catatan-catatan penulis yang memilih tema-tema tertentu dari sekian banyak peristiwa yang ditemuinya.

Di titik itulah, kita bisa menggenapi apa makna imajinasi dari buku ini. Bukankah banyak peristiwa yang terjadi di saat penulis memilih tema tentang kota Rio de Jeneiro di Brazil di banding kejadian lainnya? Atau apa pentingnya antara pemilihan presiden di Prancis tinimbang perayaan 2 Mei sebagai hari pendidikan di tanah air? Dan yang paling anyar tentang peristiwa bom di Surabaya Mei kemarin?

Itulah sebabnya mengapa disebut imajinasi sosiologis, yakni kemampuan seseorang yang dengan cermat mendudukkan masalah-masalah subjektif dalam kerangka informasi tentang problem-problem sosial. Dari sisi ini apa yang terhampar sebagai kejadian-kejadian dunia diresahkan melalui suatu kualitas pemikiran yang subjektif.

Dalam disiplin sosiologi pengertian ini dikemukakan oleh C. Wright Mills, seorang sosiolog berkebangsaan Amerika yang berpendapat bahwa seseorang mesti memiliki kualitas pikiran yang dapat membantu mereka dapat mengelola informasi dan mengembangkannya menjadi modal sosial di kehidupan nyata saat memahami apa yang sedang dan yang akan terjadi.

Imajinasi sosiologis ketika didudukkan sebagai fakultas pikiran akan kelihatan kontras dengan ilmu atau sains. Dua nama terakhir ini medan pengetahuan yang tidak banyak menempatkan imajinasi sebagai fakultas pengetahuan. Bahkan cenderung mensubtitusinya dengan mengedepankan kemampuan logika. Padahal, imijanasi seperti pengandaian Albert Einstein jauh lebih utama dari pengetahuan. Dia menjadi api pemantik pikiran membayangkan dunia yang cair sekaligus unpredictable.

Coba perhatikan penggalan lirik lagu The Beatles Imagine yang legendaris ini: Imagine there’s no heaven/It’s easy if you try/No hell below us/Above us only sky/Imagine all the people living for today. Bagi seorang penganut agama, lagu ini tidak sesuai “logika” agama. Mana ada kehidupan akhirat tanpa surga dan neraka? Bayangkan tidak ada negara, tidak ada agama, tidak ada benda-benda? Imajinasi dalam hal ini menjadi “pemecah” pakem-pakem pikiran yang seolah-olah sudah fix.

Kekuatan macam itulah yang setidaknya menjadi semangat dari empat puluh satu tulisan Sawedi ini. Dengan harapan dapat memunculkan dugaan-dugaan, spekulasi-spekulasi, tebak-tebakkan dan prediksi-prediksi tentang kemungkinan hari esok, buku ini dapat dijadikan bahan penggenap. Dimulai dari pengamatan seorang akademisi, dan dikemas melalui tulisan yang informatif. Selamat membaca.

Penulis: Sawedi Muhammad
Dimensi: 13 x 20 cm
Ketebalan: 206 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-6646-15-6