Seumpama Kitab Suci Al-Qur’an, kalau Anda ingin dianggap khatam membacanya, maka cukuplah membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Sebelumnya didahului oleh Al-Fatihah. Dan, kalau Anda ingin mengetahui hakekat utama puisi-puisi Sulhan Yusuf, maka cukuplah membaca tiga puisinya, yaitu: Keabadian, Masa Senja, dan Warisanku. Serupa Al-Fatihah, Anda pun wajib membaca puisi. Setidaknya, keempat puisi tersebutlah yang menjadi roh dari puisi-puisi Sulhan Yusuf dalam buku ini. Salah satu makna yang tersurat dan tersirat dari keempat puisi tersebut, yang sebenarnya representase dari seluruh puisi yang ada dalam buku ini adalah Sulhan Yusuf mengajak kita untuk memasuki sebuah rumah. Sebutlah rumah itu: Rumah Kebahagian dan Keabadian. Di dalamnya terdapat perabot-perabot pengabdian, keikhlasan, keselarasan. Ada juga asesoris kebijaksanaan.
Rumah Kebahagian yang ditawarkan oleh Sulhan Yusuf adalah rumah keabadian yang ditumbuhi jejeran pohon-pohon rindang yang menciptakan kesejukan. Bukan dijejali oleh rombongan binatang yang penuh kegaduhan. Memang, dalam kehidupan nyata, sesuai pengamatan saya, sosok Sulhan Yusuf tetaplah bernaung dalam rumah kebahagian. Itulah sebabnya, boleh jadi usia Sulhan Yusuf semakin menua—sebutlah usia 47—tetapi semangatnya tidak pernah melemah, senyumnya tetap merekah. Pun, petuah-petuahnya semakin meluah. Bahkan, Sulhan Yusuf terlihat bersahabat dengan waktu.
jatahku melata di buana berkurang lagi
masa tak mau berkompromi
waktu melaju tak sanggup menghalaunya
perjalanan mesti menggelinding
…..
matabatinku makin peka membaca alamatulhayat
matahatiku makin benderang meraba cakrawala
matapikirku makin terang memikirkan semesta
matapenaku makin tajam menuliskan jagad
…..
di sisa usia belum ada yang pasti
barulah keabadian yang pasti
Penggalan puisi 47 ini menggambarkan waktu bagi Sulhan Yusuf adalah ibarat kekasih. Begitulah, ibaratnya Sulhan Yusuf bertumbuh a la pepohonan, bukan a la hewani. Pepohonan memang tidak bermusuhan dengan waktu. Semakin tua sebuah pohon, maka akarnya semakin dalam mencengkeram bumi. Bahkan semakin tua sebuah pohon, maka semakin kuatlah ia dalam kehidupan. Sebaliknya, hewan begitu bermusuhan dengan waktu. Semakin bertambahnya waktu, maka semakin tua dan lemahlah dia, dan juga semakin dekatlah kematian. Bahkan, bagi hewan, waktu ibarat jarum-jarum kematian yang setiap saat bisa menusuk.
—Dul Abdul Rahman (sastrawan)
Penulis: Sulhan Yusuf
Dimensi: 12 x 19 cm
Ketebalan: 178 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-71700-2-5
