Membaca buku “Corat-coret di Kaki Langit dan Esai-esai Lainnya” ini ibarat membaca pengalaman dari seorang insan yang telah banyak mendulang inti sari kehidupan. Dari tulisan-tulisannya, kelihatan pengalaman seorang manusia bisa dikekalkan melalui beragam cara. Dalam hal ini, ketika zaman banyak bertumpu kepada peredaran informasi yang begitu cepat, Muhammad Rajab lebih memilih tulisan sebagai alat rekamnya.
Memang tiada alat rekam yang paling baik selain daripada tulisan. Melalui tulisan, fenomena masyarakat yang kadang tidak “bersuara” mampu disuarakan. Pengalaman yang tidak mampu “didengarkan” bisa didengarkan. Bahkan, fenomena-fenomena masyarakat yang selama ini luput disaksikan orang banyak, mampu diangkat ke permukaan agar layak diketahui. Tentu ini satu pekerjaan yang membutuhkan banyak kepekaan dan perhatian dari kesibukan kita selama ini. Dari sisi ini Rajab telah berperan lebih, mengingat tugasnya sebagai seorang “wakil rakyat”.
Yang menarik dari buku ini, ibarat album foto, tulisan yang akan pembaca temukan seperti sedang berbicara langsung kepada pembacanya. Tanpa mesti neko-neko seperti bacaan di media-media massa yang banyak bumbu bombastisnya, penggalan-penggalan tulisan Rajab ini dengan jujur merekam pengalaman yang dialaminya tanpa berpretensi mencari keberpihakan dari siapa pun. Dia ditulis apa adanya. Ibarat foto, dia menangkap panorama senatural mungkin. Hal ini memang seyogianya dilakukan oleh siapa pun ia sebagai manusia yang bertugas menyampaikan fakta sebagaimana adanya. Bukan sebaliknya.
Kita layak mengapresiasi karya Rajab ini, lantaran selain berniat merekam apa saja sebagai seseorang yang sehari-hari bersentuhan dengan masyarakat, ia juga saat bersamaan sukses memosisikan dirinya menjadi masyarakat itu sendiri. Artinya, tanpa harus memakai embel-embel formal yang melekat pada dirinya, ia telah menjadi warga yang berhasil mengangkat tema-tema kemanusiaan yang selama ini menjauh dari radar pengamatan kita. Dari sinilah melalui karya tulisnya, ia telah memosisikan diri seperti apa yang selama ini menjadi prinsip demokrasi: “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”
Salah satu tema kemanusiaan yang Rajab angkat misalnya adalah problem ektremisme agama. Kita tahu bersama, ekstremisme agama merupakan salah satu tantangan persatuan bangsa kita. Melalui ekstremisme agama, masyarakat kita terbagi menjadi golongan-golongan kecil. Lantaran jumlah masyarakat Indonesia dikenal sebagai bangsa yang besar, karena mudah saling curiga, bahkan mudah sesat-menyesatkan, berakibat perpecahan. Imbasnya, bangsa kita banyak mengalami disintegrasi. Persatuan dan kesatuan yang selama ini menjadi pegangan, terancam.
Dari tulisan berjudul “Orang Kecil yang Besar” kita juga dapat mengambil pelajaran berharga berupa kejujuran. Dari tulisannya ini, kejujuran menjadi sifat penting yang mesti dimiliki siapa pun. Bahkan bukan saja sifat, melainkan harus menjadi sikap kehidupan. Bangsa ini bangsa yang tinggi adat ketimurannya, di mana kejujuran adalah salah satu moral utama masyarakatnya. Menjadi miris kita rasakan, karena salah satu hal yang hilang dari bangsa kita selama ini adalah kejujuran. Coba tengok sebagian perilaku elite kita, korupsi merajalela karena kejujuran tidak menjadi sikap hidup di tengah-tengah kita.
Yang lain, panorama menarik patut diperhatikan sidang pembaca adalah dari tulisan “Bersetubuh dengan Jabatan”. Seperti judulnya, di situ ada istilah yang patut direnungkan, terutama bagi yang sedang mengemban tanggung jawab jabatan. Dikisahkan di situ, seorang pemegang jabatan mengkhawatirkan dirinya terpengaruh kepentingan diri, keluarga, atau kelompoknya ketika mengambil kebijakan. Jika dia kalah dan lantas lebih mementingkan, misalnya, kepentingan keluarganya saat mengambil kebijakan, maka ia disebutkan telah “bersetubuh dengan jabatan”. “Bersetetubuh dengan jabatan” adalah fenomena jamak yang gampang kita temukan. Seringkali ia ditemukan di pemerintahan-pemerintahan daerah, di balik meja-meja jabatan tingkat RT hingga kecamatan, bahkan sampai juga di meja-meja jabatan tingkat provinsi hingga pusat. Sedih memang.
Banyak hal yang bisa kita petik dari tulisan-tulisan Muhammad Rajab. Saya tidak mesti menceritakannya semua. Biarlah sidang pembaca mengambil tugas itu. Lebih berkesan rasanya jika sidang pembaca melakukannya sendiri lantaran setiap pembaca punya kedudukan yang sama untuk mengetahuinya. Zaman sekarang, banyak dari kita mengabadikan momen kehidupan melalui swafoto, status di media-media sosial, insta story, direct broadcasting (siaran langsung), video-video timeline, atau melalui parodi-parodi meme di dunia maya. Seolah-olah semua itu adalah hal yang paling dibutuhkan masyarakat. Sementara di sisi lain banyak temuan-temuan yang mengatakan tingkat literasi kita masih jauh tertinggal di belakang. Mengingat keadaan ini, sebagian besar dari kita sadar tidak sadar banyak melakukan perbuatan kontraproduktif. Namun, melalui buku ini, Rajab bisa menjadi contoh, bahwa banyak ragam sisi kehidupan kita yang bisa dikemas dalam bentuk karya tulis dan membukukannya.
Last but not least, kerja produktif Rajab ini karena menggunakan bahasa yang ringan, dan diulas dengan cara apa adanya, membuat pembaca lebih mudah mengonsumsinya. Buku yang baik adalah buku dengan bahasa yang fasih dan tidak bertele-tele, dan Rajab memiliki keunggulan dari sisi ini. Lebih dari semua itu: buku ini tidak sekadar corat-coret!
Penulis: Muhammad Rajab
Dimensi: 12 x 19 cm
Ketebalan: 224 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-6646-11-8
