Tulisan yang terangkum dalam buku ini menjadi saksi perjalanan pemikiran, perasaan, juga cita-cita Muhammad Rajab dari masa ke masa. Dalam sejumlah tulisan, utamanya ketika ia masih belum jadi politisi, terang sekali letupan idealisme menggaung di sana, terutama ketika ia bicara soal-soal pemerintahan, pergerakan sosial, dan masyarakat madani. Sudah barang tentu tulisan-tulisannya itu akan datang menagih apa yang sudah dan akan Rajab lakukan dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara, kini dan nanti. Kata dan kalimat yang tercantum di situ, menjadi tugu peringatan, sekaligus sebagai sempritan, yang akan menguntit segenap aktivitas Rajab di jagat politik.
Dalam konteks ideologis, sebagaimana terkandung dalam beberapa tulisannya, Rajab nampaknya seorang yang menganut paradigma transformatif, khususnya lagi Islam transformatif. Ia cukup terpengaruh oleh pemikiran teologi pembebasan, sebagaimana yang jamak kita jumpai dalam karya-karya Hassan Hanafi, Ali Syariati, Ashgar Ali Engineer, Moeslim Abdurrahman, Dawan Rahardjo, dan sebagainya. Islam transformatif menghendaki ajaran dan ummat Islam terlibat dalam usaha-usaha pembebasan manusia dari penindasan dan eksploitasi. Paradigma ini lazim dikenal dengan istilah Islam kiri. Dalam menganalisa sistem yang beroperasi di dalam masyarakat, Islam kiri terinspirasi pada ajaran transformatif Islam, sekaligus meminjam sejumlah analisa ilmiah marxisme. Dalam istilah Syariati, penganut Islam kiri itu adalah seorang sosialis bertuhan—untuk membedakannya dengan sosialis atheis.
Di lain sisi, tulisan-tulisan Rajab juga memperlihatkan bahwa ia sesungguhnya seorang yang tertarik pada dunia spiritualitas yang mistikal. Kutipan-kutipannya terkait cerita sufistik, sedikit banyak menjelaskan bahwa Rajab sangat akrab dengan dunia tasawuf (mistisisme Islam). Di Barat, tema-tema spiritualitas mistikal, terutama sufisme, makin digandrungi orang. Mereka bahkan mendeklarasikan apa yang disebut “spiritualisme tanpa agama”. Sementara, di dunia Islam, seiring dengan suburnya Islam yang berwatak fiqhiyah (sebagaimana yang nampak pada doktrin wahabiyah atau salafiyah), sufisme atau tasawuf justru divonis sebagai ajaran sesat penyebar bid’ah dan kesyirikan. Vonis-vonis semacam itu tentu tidak menyurutkan para pecinta kearifan, dan terutama para pesuluk (pejalan spiritual), untuk menyelami dimensi ajaran Islam yang berorientasi pada cinta (mahabbah) ini, sebagaimana doktrin tasawuf. Mengingat apresiasinya yang antusias terhadap tasawuf (sufisme), maka gaya Rajab yang pendiam atawa seringkali irit bicara itu, harus kita duga sebagai gaya seorang pengamal tasawuf—yang bisa jadi tengah ekstase dalam zikirnya.
Kita bahwa di hari-hari mendatang, Muhammad Rajab terus bermetamorfosa menjadi sosok politisi yang pemikir dan pejuang—dan siapa tahu juga sekaligus pesuluk. Kiranya harapan kita itu tidaklah terlalu muluk-muluk di masa sekarang ini, terutama jika kita menimbang-nimbang pernyataan Cicero: “Politik bukan perjuangan demi keadilan. Politik adalah profesi.”
Penulis: Muhammad Rajab
Dimensi: 14 x 21 cm
Ketebalan: 308 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-73864-1-9
