Buku Gemuruh Literasi hadir mengekalkan seberinda jejak-jejak literasi di Bantaeng, sejak belasan tahun hingga kini. Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, Safar Literasi, berisi 26 tulisan, berkisah tentang perjalanan penulis menggelorakan literasi, lengkap dengan lika-likunya. Kedua, Penerbitan-Percakapan Buku, mengandung 26 tulisan, merupakan kata pengantar didedahkan oleh penulis pada buku-buku yang terbit di Bantaeng. Selain itu, berisi pula perspektif penulis, kala didaulat sebagai pembedah diskusi buku atau menimbang semesta perbukuan. Terakhir, Seutas Refleksi, 27 tulisan, bercakap ihwal refleksi penulis dari peristiwa-peristiwa literasi yang dialaminya. Segenap tulisan itu sudah berserakan di pelbagai media daring: Kalaliterasi.com, Bonthaina.com, Edunews.id, maupun di blog pribadi dan Facebook penulis.
Tanpa bermaksud membatasi tafsir pembaca, dengan terbitnya buku ini, kita tiba pada banjaran catatan. Pertama, Gemuruh Literasi adalah buku pertama dan mungkin satu-satunya yang membahas gerakan literasi di Bantaeng, bukan hanya secara kronologis, tapi juga secara ideologis, serta atma yang melatarinya. Dapatlah dikatakan karya ini sangat representatif untuk dijadikan rujukan, menelusuri metamorfosis literasi di Butta Toa. Pun sangat mungkin, buku ini menginspirasi persona lain untuk melakukan ikhtiar serupa. Menjadi orang-orang “gila” baru yang membiakkan kebaikan.
Kedua, hadirnya buku ini adalah sebuah penanda kemajuan. Buku, kata penulis, “Merupakan salah satu penanda paling kuat dari peradaban.” Makin banyak tulisan tentang suatu negeri, atau makin banyak buku yang terbit di negeri itu, makin benderang pulalah kemajuannya. Saya meyakini literasi adalah jalan mewujudkan le meilleur des mondes possibles, dunia terbaik dari dunia yang mungkin ada.
Terakhir, buku ini adalah burhan kerja “pembangunan”. Seperti yang dibilang Goenawan, bahwa dongeng “Pak Tua Sinting”, adalah lambang pengertian “pembangunan”. Bahwa “pembangunan” tak sama dengan kerepotan dan capeknya pesta perkawinan. Di pesta, kita juga merasa capek, tapi lampu-lampu bersinar terang, hiasan terpasang, dan lagu-lagu didendangkan. Namun, isi buku ini bukanlah kerja-kerja macam itu. “Pembangunan” dalam Gemuruh Literasi adalah tentang manusia, tentang keberlanjutan, tentang masa depan. Dan memang kerja-kerja seperti itu bukan kerja sehari dua hari, laiknya pesta perkawinan yang langsung nyata hasilnya.
Membaca buku ini, akan membawa alam pikiran pembaca memasuki lorong waktu, menyusuri titik-titik literasi dari ujung pukul ujung Bantaeng, mengeja tiap fragmen dinamikanya, dan bagaimana kemudian kerja-kerja profetik ini bermuara pada peristiwa literasi paling mutakhir di Bantaeng: diketuknya palu perda literasi: Perda Penyelenggaraan Gerakan Literasi di Bantaeng. Ya, meski, di saat yang sama, kita meyakini pula bahwa perda bukan tujuan, melainkan “instrumen”, karenanya ia akan amat bergantung pada krida para pelaku nantinya. Penting untuk mengawalnya secara berjemaah. Selamat membaca!
Penulis: Sulhan Yusuf
Dimensi: 14 x 20.5 cm
Ketebalan: xiv + 366 halaman
Penerbit: Liblitera Press
Tahun Terbit: 2023
ISBN: 978-623-92936-6-6
