Tutur Jiwa: Sehimpunan Literasi Paragraf Tunggal

Di rentang panjang peradaban, sejak dulu hingga kini, “kisah” selalu didudukkan di kedalaman wajahnya yang jamak: sebagai mata air, sebagai nyala api inspirasi, sebagai refleksi, dan sebagai percakapan yang melingkar. Di percakapan yang melingkar itu pula, manusia menggerakkan kedirian dan eksistensinya. Di satu momen, manusia berada di ketinggian, dan di momen lain ia menemukan dirinya di ke­rendahan.

Di momen gerak ke ketinggian dan ke kerendahan inilah sekumpulan literasi “Tutur Jiwa”, ditulis oleh Suhan Yusuf, sejatinya dicerap. Di kerendahan, Sulhan Yusuf membincang manusia melalui satir yang santun, bukan sarkasme yang kasar. Satir santun dialamatkan kepada politikus, kepada demokrasi, dan kepada kekuasaan. Di ketinggian, Sulhan Yusuf berkisah tentang cinta, tentang persahabatan, tentang kedirian, tentang hak, dan tentang jiwa.

“Tutur Jiwa” adalah literasi “paragraf-tunggal”. Uniknya, Sulhan Yusuf di sini menjalankan perilaku tulis “paragraf tunggal” untuk menciptakan “rongga yang luas” untuk menyimpan kisah. Apa pun tajuknya, apa pun ruang hidupnya, siapa pun aktornya, kisah yang dibangun Sulhan Yusuf berujung pada “jiwa”. Lebih unik lagi, Sulhan membangun kisah lewat “genre percakapan”, suatu genre yang sejauh ini dipercaya oleh sastrawan untuk menggerakkan jiwa pembaca.

Bagi ilmuwan Barat seperti Clarissa Pinkola Estes, ki­sah adalah asupan jiwa. Clarissa, penyair yang juga berprofesi sebagai spesialis pasca-trauma dan sekaligus psikoanalis, mendakukan “jiwa akan selalu gelisah tanpa diasupi oleh kisah”. Sang sarjana ini belajar dengan amat dalam melalui literasi Farid ad-Din A­ttar, yaitu “Musyawarah Para Burung”. Syair ad-Din Attar yang panjangnya mencapai 4500 baris adalah mata air bagi sufi yang mengajarkan kepada manusia tentang “jiwa yang mencari”, “jiwa yang jatuh” sekaligus “jiwa yang bangkit”.

Clarissa adalah sarjana psikoanalis yang amat menghormati puisi dan seni panggung sebagai bagian dari  terapi ekspresif untuk orang lain. Ia bilang, kisah Musyawarah Para Burung adalah deskripsi tentang psyche manusia. Kisah perjalanan ke tujuh lembah, dengan derajat masing-masing, memeta­kan kondisi psyche manusia. Sebagian psyche akan menyerah, akan sengsara karena tak tahan menderita. Sebagian lagi diliputi permusuhan dan tak mampu menanggung visi yang menakutkan. Sebagian lain tersobek oleh keraguan atau penuh sesal.

Psyche yang sehat ditandai oleh kesediaan, kese­tiaan, dan kerelaan berkorban. Semuanya disimpan melalui percakapan yang membentuk kisah. Jadilah Musyawarah Para Burung sebagai hikayat yang dipakai secara akademis untuk merefleksi kualitas psyche manusia. Clarissa meyakini bahwa sang penyair Persia, Farid ad-Din Attar, adalah sosok seniman mistik sufistik yang memberi peringatan tentang bahaya yang mengancam psyche.

“Tutur Jiwa” tentu bukan hikayat “Musyawarah Para Burung”. Tapi, keduanya berdiri di atas keprihatinan yang sama, yaitu “keselamatan jiwa”. Keduanya adalah representasi dari takjub manusia atas pesona “jiwa”. Keduanya berisi deskripsi atas manusia yang bergerak di ketinggian dan kerendahan untuk paham perjalanan lelah manusia mencari “The Soul of souls”(Jiwa dari segala jiwa).

Alwi Rachman (Budayawan)

Penulis: Sulhan Yusuf
Dimensi: 12 x 19 cm
Ketebalan: 209 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-6646-04-0