Heidegger pernah membahas pertanyaan yang diajukan oleh Friedrich Hölderlin (wafat 1843), bagaimana para penyair muncul pada masa sulit dan penuh penderitaan? Tentu pertanyaan ini tidak terkait dengan untung atau ruginya mengapa suatu syair muncul, karena jika pertanyaannya demikian, maka tidak akan bermakna. Kemunculan sesuatu tidak hanya terkait dengan persoalan untung dan rugi. Terkadang kemunculan tidak selamanya bermakna kegunaan. Kemunculan bisa bermakna kelalaian menyatu dengan kenyataan, atau kelalaian menyatu dengan eksistensi, bahkan sebaliknya, suatu penegasan menyatu dengan hakikat eksistensi.
Pengaruh teknologi dan konsumerisme yang begitu besar terhadap kehidupan manusia akibat kebijakan ekonomi yang berlandaskan kepada ekonomi liberal dan pasar bebas, memberikan dampak dan pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Pengaruhnya bahkan terlihat dalam cara kita menanyakan sesuatu hal. Masa kini, awal pertanyaan kita biasanya berupa, “untung dan ruginya buat saya, apa?” Syair biasanya dibaca pada waktu senggang, saat istirahat, di bus, atau di saat antrian. Mungkin karena kita masih bertanya, apa untungnya, sehingga sebagian orang mengira, syair tidak memberikan efek secara langsung dalam kehidupan keseharian kita. Padahal ketika syair dibaca, bahkan saat waktu senggang pun, merupakan suatu keuntungan buat kita agar kita tetap memperoleh makna. Kecuali jika keuntungan yang dimaksud adalah keuntungan secara materil, maka membaca syair boleh berarti suatu kesia-siaan.
Bagi Aristoteles, membaca syair bukan hanya memberikan makna, tapi juga mampu mempengaruhi kondisi jiwa. Namun dalam pemikiran posmodern, syair menemukan maknanya yang baru. Kata Nietzsche, “jika seni tak ada, maka hakikat akan mencekik kehidupan kita”. Hakikat dalam kalimat Nietzsche bukan hakikat realitas eksternal, akan tetapi hakikat yang telah tereduksi dalam proposisi dan argumentasi logika Aristotelian. Hakikat dalam logika Aristotelian begitu kompleks dan mampu membuat manusia jauh dari hakikat eksistensi. Apakah ada jalan lain mencari kebenaran? Menurut Nietzsche, dan juga Heidegger, seni dan sastra adalah jalan lain menuju hakikat. Semakin tenggelam kita dalam akal abstraksi Aristotelian, maka semakin kita terbawa jauh dari hakikat eksternal, sementara hanya seni yang dapat menolong kita dari cengkraman logika Aristotelian.
Syair bisa dimaknai sebagai jalan kembali menuju rumah hakikat diri setelah sebelumnya terjebak dalam keterasingan. Namun sangat sedikit manusia yang mampu menemukan keterasingannya. Menemukan keterasingan adalah jalan terbaik menuju eksistensi dan menuju rumah eksistensi diri. Syair adalah bahasa sejati sebab syair tak merubah sesuatu. Namun tanpa bahasa, alam eksternal tak memiliki nama. Melalui penamaan, kita mampu mendominasi alam eksternal. Namun penamaan itu adalah bahasa abstraksi, bukan bahasa syair. Bahasa syair adalah bahasa eksistensi. Sebab itu, tugas para penyair adalah mengembalikan manusia ke dalam rumah eksistensinya.
Buku yang ada di tangan Anda ini adalah kumpulan syair di mana cinta mengalir dan menjadi ruh dalam seluruh bait-bait syairnya. Dan karena cinta adalah paradoks, maka dalam buku ini akan ditemukan beberapa bait syair yang terlihat secara sepintas seperti bahasa paradoks. Bait-bait syair paradoks itu sendiri mudah ditemukan dalam syair-syair sufistik. Misalnya dalam buku ini, nampak pada syair yang berjudul “Hilang”:
. . .
Dua tidak berarti menghilangkan satu
Eksistensi tak saling menggugurkan
Satu wujud tak pernah berdiri sendiri
. . .
Petikan bait syair di atas adalah salah satu contoh bahasa syair paradoks, karena di satu sisi menegaskan keragaman “dua tak berarti menghilangkan satu”, namun pada sisi yang lain menegaskan pondasi ketunggalan “satu wujud tak pernah berdiri sendiri”. Jika ada wujud tak pernah berdiri sendiri, maka wujud tersebut bukan hakikat wujud. Sebab itu, keragaman ada karena semuanya disebut wujud, namun bukan wujud yang sejati. Dan pada saat yang sama meniscayakan ketunggalan, karena tak mungkin eksis wujud yang tak pernah berdiri sendiri tanpa ada tempat bergantung, yaitu hakikat wujud yang tunggal dan satu. Dalam syair “Hikmah Semesta”, penyair menunjukkan proses takwil untuk memahami makna syair yang dimaksud:
. . .
Di temaran percikan cahaya
Hidangan jiwa tersaji di meja-meja darwisi
Menyantap makna
Meneguk cawan cinta
Di jamuan para musafir
Dalam bait syair di atas ditemukan penggunaan bahasa yang berbeda dari penggunaan bahasa biasanya yang kita gunakan sehari-hari, misalnya hidangan, menyantap, meneguk, dan jamuan: adalah bahasa yang biasa kita temukan terkait dengan makanan. Namun dalam syair di atas, kata-kata tersebut tidak lagi terkait dengan makanan materi, melainkan makanan spiritual. Makanan spiritual tersebut dihidangkan di meja darwisy, yaitu ibadah sebagai jalan meraih cinta sehingga kita akan menyantap, yakni meraih makna.
Seluruh syair yang ada dalam buku ini, indah. Namun di antara syair yang ada, syair tentang “Huruf” sangat menarik perhatian saya untuk dieksplorasi lebih jauh makna dari bait-bait syair tersebut:
Satu huruf engkau simbol
Hanya bunyi dan bentuk
Satu huruf engkau sunyi dan misteri
Tetapi huruf-huruf itu
Berkata dan berkalimat,
menyusun makna
Tanpa huruf, simbol tak bermakna
Tanpa huruf, ilmu tiada
Tanpa huruf adalah nihil
Huruf adalah tanda perkenalan
Huruf adalah titik menyimpan bunyi
Lalu menjadi kata dan kalimat
Agar Dia diketahui
Sebelum simbol dan bunyi aktual
Huruf menyepi
Lalu Adam diajarkan kata-kalimat
Lalu menjadi
Huruf adalah simbol dan sekaligus sebagai penampakan atau manifestasi. Dalam tradisi sufistik, huruf adalah jelmaan dari hakikat, dan bahkan huruf pun dipahami sebagai manifestasi dari asma Ilahi. Sering kita mendengar perkataan dalam tradisi sufistik, “ajarkan padaku satu huruf, maka aku akan mengetahui segalanya”. Huruf adalah relasi dari zahir menuju batin, dan dari batin menuju zahir.
Syair yang ada dalam buku ini mesti dibaca dengan cinta, di mana hati sedang dalam kondisi keterbukaan. Tanpa kondisi keterbukaan kita akan membaca syair-syair tersebut seperti membaca buku biasa, yang mana setiap katanya berlalu begitu saja. Padahal dalam syair “Huruf”, penulis atau penyair mengatakan, “huruf adalah perkenalan, menyimpan bunyi, lalu menjadi kata dan kalimat”.
—Muhammad Nur Jabir (Direktur The Rumi Institute, Jakarta)
Penulis: Tajuddin Noer
Dimensi: 12 x 19 cm
Ketebalan: 220 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-71700-9-4
