Bantaeng: Satu Negeri Seribu Cerita adalah sebuah antologi yang merangkum denyut kehidupan budaya masyarakat Bantaeng dalam beragam narasi. Buku ini merupakan hasil dari Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantaeng. Ditulis oleh lebih dari lima puluh penulis dengan latar beragam, buku ini menjadi bukti bahwa cerita bukan hanya untuk dikenang, tapi juga untuk dihidupkan kembali dan diwariskan lintas generasi.
Buku ini membuka pintu bagi pembaca untuk memasuki ruang-ruang kultural di Kabupaten Bantaeng, mulai dari kisah mitologis Tomanurung di Onto, jejak tujuh Kare’, hingga simbolisasi angka tujuh dan dua belas dalam sistem sosial dan pemerintahan tradisional Bantaeng. Kawasan sakral seperti Balla Toddoka, Balla Tujua, dan Batu Pallantikang menjadi titik awal pembacaan tentang bagaimana masyarakat Bantaeng membingkai ruang hidupnya dalam nilai-nilai spiritual dan historis.
Tidak hanya berhenti pada kisah sejarah, antologi ini juga menyingkap kekayaan ritus budaya seperti Pesta Adat Gantarangkeke, Pa’jukukang, dan berbagai praktik tradisional lain yang menjadi penanda identitas komunitas. Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menyimpan nilai religius, solidaritas sosial, dan ikatan antara manusia dengan alam serta leluhur mereka. Salah satu bagian yang mengesankan dari buku ini adalah potret peran perempuan dalam menjaga tradisi. Dalam tulisan seperti “Perempuan Penjaga Warisan di Ballak Tujua Onto”, pembaca disuguhkan bagaimana perempuan bukan hanya pelengkap dalam adat, melainkan pemegang kunci kelestarian budaya. Mereka adalah narator, pelatih, dan penjaga nilai—dari rumah, ritual, hingga ruang publik.
Disusun dengan narasi yang puitis, reflektif, dan sesekali kritis, Bantaeng: Satu Negeri Seribu Cerita adalah buku yang tak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi juga menantang pembaca untuk memaknai kembali pentingnya pelestarian budaya di tengah laju modernitas. Buku ini adalah jembatan antara yang lama dan yang baru, antara akar dan arah. Ia bukan hanya buku tentang “Bantaeng”. Ia adalah suara kolektif satu negeri, yang menyimpan lebih dari seribu cerita—dan semuanya layak untuk didengar, dipahami, dan dijaga.
Penulis: Zainuddin, Nur Ismi, Abdul Wahab, Ikbal P., Jusman, Fiona Fahrani Wongso, Sutrisno Abdi Rompas, Jumriana Dg. Nuji, Muh. Alief Akbar, Sri Ayu Arista, Kamaruddin Rahim, Isra Ilham, Puji Rahayu, Allice, Nita Halim, Suhardi Eon Fattah, Nurhayati, Dian Aini Arbi, Ahmad Nur Fauzan, Irham Al-Hur, Ismatul Khaerat, Ardi Labarani, Ahmad Rusaidi, Nita Purwanti, Wini Novianti Cendrana, Nurul Aqilah Muslihah, Muh. Rafli Irfandi, Junaedi Hambali, Hendra Hermawan, Ikbal Haming, Patta Seli, A. Rendy Rismawan, Nurul Fajrianti, Irmawati, Rahma H.N., Muh. Ariel, Kamaruddin Rasyid, Lukman Hasanuddin Salewangang, Zandra Zalzabila Al Ikhwan, Muh. Fikram B., St. Samsiah, Mita Almunawwarah, Zakian Anwar, Saharuddin Lakkasang, Nur Rahmah, Wahyu Hidayat, Ulfah Rani, Takdir Mahmud, Ahmad Dermawan Aldi, Imam Aslam, Nur Indah Amir, Nanda, Irfan Tawakkal, Sulhan Yusuf, Ade Sulmi Indrajat, Dion Saif Saen, Mansyur Rahim, Ashari Gunawan
Penyunting: Ade Sulmi Indrajat, Ikbal Haming, Sulhan Yusuf
Dimensi: 15.5 x 23 cm
Ketebalan: xii + 261 halaman
Penerbit: CV. Liblitera Press
Tahun Terbit: 2025
ISBN: 978-623-89813-3-5
Harga: Rp150.000
