Demokrasi, Gender, dan Politik

Buku ini merupakan hasil karya mahasiswa Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar angkatan 2014, lebih khususnya kelompok 1 & 2 sekaligus sebagai output dari mata kuliah Academik Popular Writing (APW). Buku ini menjadi bagian dari budaya literasi yang sedang digiatkan oleh Jurusan Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar serta sebagai bentuk kontribusi pemikiran mahasiswa dalam mengembangkan kajian Ilmu Politik sehingga tidak lagi bersifat normatif melainkan implementatif dan peka terhadap realitas sosial yang terjadi.

Buku ini berisi kumpulan tulisan sebagai hasil refleksi atas berbagai fenomena sosial yang terjadi dewasa ini. Dari refleksi tersebut melahirkan kritikan berikut tawaran yang mungkin dapat menjadi pilihan alternatif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul akibat fenomena sosial tersebut. Kritikan dan solusi yang dibangun berdasarkan perspektif Islam. Islam selama ini hanya dipahami sebagai agama spritual dan eksklusif. Padahal jika dikaji secara mendalam, Islam justru menawarkan begitu banyak solusi atas kehidupan manusia. Krisis kemanusiaan yang terjadi di era modern dewasa ini merupakan efek dari teralienasinya agama dari kehidupan manusia. Manusia menjadi superior (antroposentris). Akibatnya ukuran kebenaran, kesejahteraan, dan kekuasaan berada di tangan manusia. Oleh karena itu Islam menjadi sangat penting sebagai landasan etik dan landasan moral untuk membatasi kesewenangan manusia. Penggunaan Islam sebagai landasan teoretik dalam buku ini sesuai dengan visi dan misi dari Jurusan Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar untuk mengembangkan “Politik Profetik”. Politik Profetik mengandung tiga misi besar, yakni: humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (mem­bebaskan manusia), dan transendensi (keimanan). Misi itulah yang berusaha diwujudkan melalui penulisan buku ini.

Meskipun buku ini terkesan sederhana, namun jika dianalisis secara mendalam, buku mengandung pesan dan makna yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Ekses-ekses (dimensi yang merusak) sebagai bagian dari proses modernisasi berkembang karena ketidaksadaran manusia akan posisi dan tanggungjawab yang dimilikinya. Modernisme tidak hanya diartikan sebagai proses pergantian alat-alat tradisional menjadi teknologi modern, melainkan termasuk transformasi pemikiran. Ada banyak paham yang lahir, berkembang, dan bertransformasi (berubah bentuk) mengikuti proses modernisasi. Sebagai contoh, konsep gender. Gender merupakan perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial melalui agama, budaya, lingkungan, dan sebagainya. Pada awalnya dalam paradigma gender, laki-laki merupakan pemegang kuasa sedangkan perempuan sebatas pemuas kebutuhan kaum laki-laki, namun dengan hadirnya modernisme maka paradigma tersebut dikonstruksi ulang. Tidak lagi ada perbedaan yang dominan terkait peran dan tanggung jawab antara kaum laki-laki dengan kaum perempuan. Kekeliruan cara pandang akan berpengaruh pada kekeliruan cara pikir, dan kekeliruan dalam berpikir akan menyebabkan manusia salah mengambil sikap. Akibatnya mereka bukannya ke arah yang benar, justru semakin jauh menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu melalui buku ini kami ingin mengubah paradigma dan membangun perspektif baru dalam memahami persoalan ekonomi, politik, sosial, dan budaya sehingga akan mengambil sikap yang tepat serta memiliki kekuatan dalam membendung gempuran modernisme.

Penulis: Ahmad Aufa Zainal, et al.
Editor: Muh. Ilyas Syarifuddin
Konsultan Naskah: Fajar, S.Sos., M.Si.

Dimensi: 15 x 23 cm
Ketebalan: 283 halaman
Penerbit: Liblitera Institute
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-6646-00-2